Investigasi di tempat kejadian perkara (TKP) bukan sekadar mengumpulkan bukti fisik, melainkan membaca dinamika peristiwa melalui jejak yang tertinggal, salah satunya melalui analisis pola bercak darah. Disiplin ilmu ini, yang secara internasional dikenal sebagai Bloodstain Pattern Analysis (BPA), mempelajari ukuran, bentuk, distribusi, dan lokasi bercak darah untuk menentukan urutan kejadian fisik yang menyebabkan pendarahan tersebut. Bagi penyidik Polri, kemampuan menginterpretasi tetesan atau percikan darah adalah instrumen krusial untuk memverifikasi keterangan saksi dan menyusun kronologi yang objektif mengenai kekerasan yang terjadi di lokasi kejadian.
Dalam prosedur formal, analisis pola bercak darah memungkinkan tim forensik untuk menentukan titik asal serangan atau posisi relatif korban dan pelaku saat kejadian. Pola darah yang jatuh akibat gravitasi (tetesan) akan berbentuk bulat sempurna jika jatuh tegak lurus, namun akan berbentuk lonjong dengan “ekor” jika jatuh dengan sudut kemiringan tertentu. Dengan menghitung sudut benturan dan menarik garis proyeksi, para ahli dapat menemukan area of origin atau titik di mana benturan fisik terjadi. Informasi ini sangat vital untuk membuktikan apakah tindakan pelaku merupakan serangan yang direncanakan atau sebuah bentuk pembelaan diri yang spontan.
Selain menentukan posisi, analisis pola bercak darah juga dapat mengidentifikasi jenis senjata yang digunakan berdasarkan kecepatan percikan. Percikan dengan kecepatan tinggi biasanya dihasilkan oleh tembakan senjata api yang menciptakan bintik-bintik darah halus seperti kabut. Sementara itu, benturan benda tumpul atau senjata tajam biasanya menghasilkan percikan dengan kecepatan sedang atau rendah dengan ukuran tetesan yang lebih besar. Melalui pola cast-off, yaitu darah yang terlempar dari senjata saat pelaku mengayunkan benda tumpul berulang kali, penyidik bahkan dapat memperkirakan jumlah pukulan minimum yang dilepaskan oleh pelaku terhadap korban.
Penerapan analisis pola bercak darah di lapangan memerlukan ketelitian tingkat tinggi dalam dokumentasi. Setiap bercak harus difoto dengan skala pembanding yang jelas agar analisis matematis di laboratorium dapat dilakukan dengan akurat. Kesalahan dalam menginterpretasi pola darah dapat berakibat fatal pada arah penyidikan, sehingga personel yang bertugas harus memiliki sertifikasi dan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip fisika fluida. Integrasi antara temuan di TKP dengan hasil autopsi dokter forensik akan menciptakan konstruksi hukum yang sangat kuat, sehingga kecil kemungkinan bagi tersangka untuk mengelak dari jeratan hukum yang adil.